Sab. Jun 22nd, 2024

Cara Hamas Membangun Kekuatan

By PA Nov28,2023
15

Puncak Andalas, Jakarta – Analisi BBC News menuliskan  ada Lima kelompok bersenjata Palestina bergabung dengan Hamas dalam serangan mematikan ke Israel pada 7 Oktober setelah bersama-sama melakoni latihan gaya militer sejak 2020.

Kelompok-kelompok tersebut melakukan latihan gabungan di Gaza yang sangat mirip dengan taktik yang digunakan dalam serangan 7 Oktober.

Rangkaian latihan dilakukan hanya 25 hari sebelum serangan dan di sejumlah tempat, termasuk di lokasi yang berjarak kurang dari 1 km dari pagar pemisah Gaza dan Israel. Dokumentasi terkait latihan-latihan itu kemudian diunggah ke media sosial.
Materi pelatihan mencakup penyanderaan, penyerbuan kompleks bangunan, dan menerobos pertahanan Israel.

BBC Arabic dan BBC Verify telah mengumpulkan beragam bukti yang menunjukkan bagaimana Hamas menyatukan faksi-faksi di Gaza untuk mengasah metode tempur mereka dan pada akhirnya melakukan serangan ke Israel yang kemudian menjerumuskan wilayah tersebut ke dalam perang.

‘Sebuah tanda persatuan’
Pada 29 Desember 2020, pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, menyatakan latihan pertama dari empat latihan gabungan dengan nama sandi Pilar Kuat merupakan “pesan kuat dan tanda persatuan” antara berbagai faksi bersenjata di Gaza.

Sebagai kelompok bersenjata paling kuat di Gaza, Hamas adalah kekuatan dominan dalam koalisi yang menyatukan 10 faksi Palestina lainnya dalam latihan bergaya militer yang dipantau oleh “ruang operasi bersama”.

Struktur tersebut dibentuk pada 2018 untuk mengoordinasikan faksi bersenjata Gaza di bawah komando pusat.

Sebelum 2018, Hamas telah secara resmi berkoordinasi dengan Jihad Islam Palestina (PIJ), faksi bersenjata terbesar kedua di Gaza. Seperti Hamas, PIJ dikategorikan sebagai organisasi teroris terlarang oleh pemerintah Inggris dan negara-negara lain.

Hamas telah bertempur bahu-membahu bersama kelompok lain dalam konflik sebelumnya. Namun, dalam propaganda Hamas, latihan pada 2020 dianggap sebagai bukti bahwa semakin banyak kelompok yang bersatu.

Latar belakang konflik Israel-Palestina:

Sejarah Deklarasi Balfour: 67 kata yang membentuk Negara Israel dan mengubah sejarah Bangsa Palestina
Sejarah konflik Palestina-Israel, pertikaian berkepanjangan yang berlangsung puluhan tahun
Israel-Palestina: Garis perbatasan dalam peta dari masa ke masa
Sejarah Jalur Gaza yang disebut penjara terbuka paling besar di dunia
Pemimpin Hamas mengatakan latihan pertama mencerminkan “kesiapan permanen” faksi bersenjata.

Latihan tahun 2020 ini adalah yang pertama dari empat latihan gabungan yang diadakan selama tiga tahun, yang masing-masing didokumentasikan dalam video yang diunggah ke media sosial.

BBC telah mengidentifikasi 10 kelompok secara visual, termasuk PIJ, berdasarkan ikat kepala dan lambang khas mereka, dalam latihan gabungan Pilar Kuat yang rekaman videonya diunggah ke aplikasi pesan Telegram.

Setelah serangan tanggal 7 Oktober, lima kelompok tersebut kemudian mengunggah video yang mengeklaim bahwa mereka turut andil dalam serangan tersebut.

Tiga kelompok lainnya mengeluarkan pernyataan tertulis melalui Telegram bahwa mereka ikut serta.

Peran kelompok-kelompok ini menjadi fokus ketika tekanan ditujukan pada Hamas untuk menemukan puluhan perempuan dan anak-anak yang diyakini telah ditawan dari Israel ke Gaza oleh faksi-faksi lain pada tanggal 7 Oktober.

Tiga kelompok PIJ, Brigade Mujahidin, dan Brigade Al-Nasser Salah al-Deen mengeklaim telah menyandera orang-orang Israel pada hari itu.

Upaya untuk memperpanjang gencatan senjata sementara di Gaza dikatakan bergantung pada upaya Hamas untuk menemukan para sandera tersebut.

Meskipun kelompok-kelompok ini berasal dari spektrum ideologi yang luas mulai dari Islam garis keras hingga yang relatif sekuler, semuanya bertekad menggunakan kekerasan terhadap Israel.

Hamas berulang kali menekankan tema persatuan antara kelompok bersenjata yang berbeda di Gaza.

Kelompok tersebut menyatakan bahwa mereka adalah mitra setara dalam latihan gabungan tersebut, walau memainkan peran utama dalam rencana menyerang Israel.

Cuplikan rekaman video dari latihan pertama menunjukkan orang-orang bermasker di dalam bunker yang memantau jalannya latihan.

Rekaman video kemudian menayangkan orang-orang bersenjata lengkap menyerbu sebuah tank tiruan yang ditandai dengan bendera Israel.

Mereka lantas menahan seorang anggota awak dan menyeretnya sebagai tahanan, serta menyerbu gedung-gedung.

Kita tahu dari rekaman video dan penuturan saksi bahwa kedua taktik tersebut digunakan untuk menangkap tentara dan menargetkan warga sipil Israel pada 7 Oktober, ketika sekitar 1.200 orang dibunuh dan sekitar 240 sandera disandera.

Bertutur kepada dunia
Latihan Pilar Kuat kedua diadakan hampir satu tahun kemudian.

Ayman Nofal, seorang komandan Brigade Izzedine al-Qassam nama resmi sayap bersenjata Hamas mengatakan tujuan latihan pada 26 Desember 2021 adalah untuk “meneguhkan persatuan faksi perlawanan”.

Dia mengatakan latihan tersebut akan “memberi tahu musuh bahwa tembok dan tindakan rekayasa di perbatasan Gaza tidak akan melindungi mereka”.

Pernyataan Hamas lainnya mengatakan “manuver militer gabungan” dirancang untuk “mensimulasikan pembebasan permukiman di dekat Gaza” merujuk sebutan kelompok tersebut terhadap komunitas Israel.

Latihan serupa digelar pada 28 Desember 2022. Rekaman video propaganda milisi yang berlatih menyerbu gedung dan tank di lokasi yang tampak seperti replika pangkalan militer sengaja dipublikasikan untuk menandai peristiwa tersebut.

Latihan tersebut dilaporkan ke Israel. Jadi tidak dapat dibayangkan bahwa latihan tersebut tidak diawasi secara ketat oleh badan intelijen negara tersebut.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sebelumnya telah melakukan serangan udara untuk mengganggu aktivitas pelatihan Hamas. Pada April 2023, mereka mengebom lokasi yang digunakan untuk latihan Pilar Kuat pertama.

Beberapa minggu sebelum serangan, tentara pengintai di dekat perbatasan Gaza dilaporkan memperingatkan soal peningkatan aktivitas pesawat tak berawak dan bahwa Hamas sedang berlatih untuk mengambil alih replika pos pemantauan.

Namun, menurut laporan di media Israel, laporan tentara pengintau tersebut diabaikan.

Brigadir Jenderal Amir Avivi, mantan wakil komandan IDF di Gaza, mengatakan kepada BBC: “Ada banyak informasi intelijen bahwa mereka melakukan pelatihan ini – lagi pula, videonya bersifat publik, dan ini terjadi hanya ratusan meter dari pagar (dengan Israel).”

Namun dia mengatakan meski militer mengetahui tentang latihan tersebut, mereka “tidak tahu untuk apa mereka [milisi Gaza] berlatih”.

IDF mengatakan mereka “menghilangkan” Ayman Nofal pada 17 Oktober 2023, pemimpin militer senior Hamas pertama yang terbunuh dalam konflik tersebut.

Bersembunyi di tempat yang jelas terlihat
Hamas berusaha keras untuk memastikan latihan tersebut realistis.

Pada 2022, para milisi berlatih menyerbu pangkalan militer tiruan Israel yang terletak hanya 2,6 km dari pos perbatasan Erez, rute antara Gaza dan Israel yang dikendalikan oleh IDF.

BBC Verify telah mengidentifikasi lokasi itu di ujung utara Gaza, hanya 800 meter dari pagar pengamanan, dengan mencocokkan fitur geografis yang terlihat dalam rekaman pelatihan dengan gambar udara di daerah tersebut. Hingga November 2023, lokasi itu masih terlihat di Bing Maps.

Kamp pelatihan tersebut berada dalam jarak 1,6 km dari menara observasi Israel dan pos observasi yang ditinggikan, sejumlah elemen yang tercakup pada pagar pengamanan yang dibangun Israel dengan biaya ratusan juta dolar.

Pangkalan tiruan tersebut berada di tanah yang digali beberapa meter di bawah permukaan tanah, sehingga mungkin tidak langsung terlihat oleh patroli Israel di dekatnya – namun asap yang mengepul dari ledakan pasti terlihat, dan IDF diketahui menggunakan pengawasan udara.

Hamas menggunakan situs ini untuk berlatih menyerbu gedung, menyandera di bawah todongan senjata, dan menghancurkan penghalang keamanan.

BBC Verify telah menggunakan informasi yang tersedia untuk umum – termasuk citra satelit demi menemukan 14 lokasi pelatihan di sembilan lokasi berbeda di Gaza.

Mereka bahkan berlatih dua kali di lokasi yang berjarak kurang dari 1,6 km dari pusat distribusi badan bantuan PBB, dan hal ini terlihat di latar belakang video resmi yang diterbitkan oleh badan tersebut pada bulan Desember 2022.

Darat, laut, dan udara
Pada 10 September 2023, ruang komite gabungan menerbitkan gambar-gambar di saluran khusus Telegram yang menunjukkan para pria berseragam militer sedang melakukan pengawasan terhadap instalasi militer di sepanjang pagar pengamanan Gaza.

Dua hari kemudian, latihan militer Pilar Kuat keempat diadakan. Pada tanggal 7 Oktober, semua taktik yang akan digunakan dalam serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, telah disimulasikan.

Para pejuang difilmkan mengendarai truk pikap Toyota berwarna putih yang sama dengan yang terlihat berkeliaran di Israel selatan pada bulan berikutnya.

Video propaganda tersebut menunjukkan orang-orang bersenjata menyerbu bangunan tiruan dan menembaki sasaran palsu di dalamnya, serta berlatih menyerbu pantai menggunakan perahu dan penyelam bawah air.

Israel mengatakan pihaknya berhasil menggagalkan upaya pendaratan kapal Hamas di pantainya pada 7 Oktober.

Namun, Hamas tidak mempublikasikan pelatihan sepeda motor dan paralayang sebagai bagian dari propaganda Pilar Kuat.

Sebuah video pelatihan yang diposting oleh Hamas tiga hari setelah tanggal 7 Oktober menunjukkan pagar dan pembatas dihancurkan agar sepeda motor dapat lewat, sebuah taktik yang mereka gunakan untuk menjangkau komunitas di Israel selatan.

Kami belum mengidentifikasi video serupa yang dirilis sebelumnya.

Rekaman para milisi yang menggunakan peralatan paralayang juga tidak dipublikasikan hingga serangan 7 Oktober berlangsung.

Dalam video pelatihan yang dibagikan pada hari penyerangan, orang-orang bersenjata terlihat mendarat di sebuah kibbutz tiruan di landasan udara yang kami identifikasi di bagian utara Rafah, Gaza selatan.

BBC Verify menetapkan bahwa rekaman itu direkam beberapa waktu sebelum 25 Agustus 2022, dan disimpan dalam file komputer berjudul Skuadron Elang, nama yang digunakan Hamas untuk divisi udaranya.

Ini menunjukkan bahwa rencana penyerbuan menggunakan paralayang dikerjakan selama lebih dari setahun.

Unsur kejutan
Sebelum 7 Oktober, Hamas diperkirakan memiliki sekitar 30.000 milisi di Jalur Gaza, menurut laporan yang mengutip komandan IDF. Hamas juga diperkirakan dapat mengerahkan ribuan milisi dari kelompok yang lebih kecil.

Hamas sejauh ini merupakan kelompok bersenjata Palestina yang paling kuat, bahkan tanpa dukungan dari faksi-faksi lain.

Ini menunjukkan bahwa aksi Hamas dalam menggalang faksi-faksi lain didorong oleh upaya untuk mendapatkan dukungan luas di Gaza, setidaknya meningkatkan jumlah anggotanya.

IDF sebelumnya memperkirakan 1.500 milisi bergabung dalam serangan tanggal 7 Oktober. Koran Times of Israel melaporkan awal bulan ini bahwa IDF kini yakin jumlahnya mendekati 3.000 orang.

Berapa pun jumlah sebenarnya, itu berarti hanya sebagian kecil dari jumlah total pasukan bersenjata di Gaza yang ambil bagian dalam serangan 7 Oktober.

Tidak mungkin untuk memverifikasi jumlah pasti berapa banyak milisi dari kelompok kecil yang turut andil dalam serangan atau latihan Pilar Kuat.

Ketika Hamas sedang membangun dukungan lintas faksi dalam persiapan serangan tersebut, Hisham Jaber, mantan Brigadir Jenderal tentara Lebanon yang sekarang menjadi analis keamanan di Pusat Studi dan Penelitian Timur Tengah, mengatakan dia yakin hanya Hamas yang tahu rencana sebenarnya dalam serangan 7 Oktober dan “kemungkinan [mereka] meminta faksi lain untuk bergabung pada hari itu”.

Andreas Krieg, dosen senior studi keamanan di Kings College London, mengatakan kepada BBC: “Meskipun ada perencanaan terpusat, pelaksanaannya didesentralisasi, dengan masing-masing regu menjalankan rencana tersebut sesuai keinginan mereka [Hamas].”

Dia mengatakan telah berbicara dengan orang-orang di dalam Hamas yang terkejut dengan lemahnya pertahanan Israel. Dia juga menilai para milisi kemungkinan menghindari deteksi teknologi pengawasan Israel dengan berkomunikasi secara offline.

Hugh Lovatt, seorang analis Timur Tengah di Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa, mengatakan Israel seharusnya mengetahui latihan gabungan tersebut tetapi “mencapai kesimpulan yang salah”.

Menurutnya, kemungkinan Israel menilai bahwa latihan tersebut merupakan aktivitas “standar” kelompok paramiliter di wilayah Palestina, alih-alih “indikasi serangan skala besar yang akan terjadi”.

Ketika ditanya tentang masalah yang diangkat dalam artikel ini, Pasukan Pertahanan Israel mengatakan pihaknya “saat ini fokus menghilangkan ancaman dari organisasi teroris Hamas” dan pertanyaan tentang potensi kegagalan “akan diperiksa kemudian”.

Diperlukan waktu beberapa tahun hingga Israel secara resmi menetapkan apakah mereka telah meluputkan peluang untuk mencegah pembantaian 7 Oktober.

Dampaknya terhadap militer, badan intelijen, dan pemerintahannya bisa sangat besar. det

By PA

Related Post