Kam. Jul 25th, 2024

Bahaya Orang Munafik Dalam Islam

12.30

 

Disusun Oleh : DRDA

 

Kelompok masyarakat akan menjadi baik apabila dalam interaksi diantara mereka senantiasa terbuka, masing-masing menampakkan ketulusan untuk saling tolong menolong dengan sesama dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana terciptanya rasa memiliki terhadap islam yang selanjutnya akan melahirkan kesadaran yang dalam untuk memperjuangkan tegaknya agama islam di atas bumi ini.

 

Virus yang sangat berbahaya, yang sangat gampang menggerogoti keutuhan umat adalah munculnya sifat kemunafikan. Tentunya kita sering mendengar kalimat yang mengatakan lain di muka lain di belakang. Sedikitnya kalimat ini menjelaskan apa itu sifat munafik. Munafik yaitu orang-orang yang menampakkan keimanannya dihadapan orang banyak baik dengan ucapan, perbuatan, sikap maupun pengakuannya, tetapi pada kenyataannya tidak demikian.

 

Ciri orang munafik dijelaskan secara umum dalam surah Al Munafiqun ayat 4. Allah SWT berfirman,

 

وَاِذَا رَاَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ اَجْسَامُهُمْۗ وَاِنْ يَّقُوْلُوْا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْۗ كَاَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ ۗيَحْسَبُوْنَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْۗ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْۗ قَاتَلَهُمُ اللّٰهُ ۖاَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ

 

Artinya: Apabila engkau melihat mereka, tubuhnya mengagumkanmu. Jika mereka bertutur kata, engkau mendengarkan tutur katanya (dengan saksama karena kefasihannya). Mereka bagaikan (seonggok) kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan (kutukan) ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Maka, waspadalah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)?

 

Ciri yang digambarkan pada surah Al Munafiqun ayat 4 adalah orang munafik bagaikan kayu yang tersandar. Pasalnya, orang munafik dianggap tidak dapat berdiri di atas kaki sendiri hingga harus bersandar pada sesuatu.

 

Dan ciri orang munafik yang terakhir pada ayat Al-Qur’an ini adalah mereka selalu cemas karena menganggap seruan keras ditujukan kepada mereka.

 

Selain itu, disebutkan pula dalam firman lain yakni surah Al Baqarah ayat 11. Allah SWT berfirman,

 

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ

 

Artinya: Apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.”

 

As-Saddi dalam tafsirnya mengutip pendapat Ibnu Mas’ud dan dari sejumlah sahabat Rasulullah SAW. Maksud dari kerusakan di bumi adalah perbuatan kekufuran dan maksiat. Namun, elakkan dari orang munafik itu langsung dibantah oleh Allah SWT dalam ayat setelahnya yakni surat Al Baqarah ayat 12.

 

اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلٰكِنْ لَّا يَشْعُرُوْنَ

 

Artinya: Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.

 

Rasulullah SAW juga turut menjelaskan empat ciri orang yang munafik dalam haditsnya. Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu yang mengutip sabda Rasulullah SAW,

 

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا ، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

 

Artinya: “Ada empat tanda, jika seseorang memiliki empat tanda ini, maka ia disebut munafik tulen. Jika ia memiliki salah satu tandanya, maka dalam dirinya ada tanda kemunafikan sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu: jika diberi amanat, khianat; jika berbicara, dusta; jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi; jika berselisih, dia akan berbuat zalim.” (HR Muslim)

 

Untuk itu, keberadaan orang-orang munafik lebih berbahaya dibandingkan dengan orang-orang kafir yang nyata-nyata memusuhi islam. Sedangkan orang-orang munafik memusuhi islam dari dalam. Ibarat kata, orang-orang munafik adalah musuh dalam selimut. Mereka bergaul bersama-sama dengan umat islam dengan maksud mencari informasi tentang kelemahan umat muslim yang pada akhirnya akan disampaikan kepada orang-orang kafir.

 

Zaman sekarang ini banyak kita jumpai orang-orang munafik, mengaku bahwa dirinya seorang muslim tapi benci ketika mendengar azan disaat tertidur nyenyak, benci ketika ada yang mengajaknya untuk sholat 5 waktu, benci ketika ada yang menasehatinya ketika dia salah, bahkan benci ketika melihat umat muslim berjuang membela agamanya sendiri.

 

Bahkan banyak kita jumpai seorang muslim mati-matian membela orang kafir hanya karena ingin mendapatkan pangkat, harta dan jabatan saja. Seakan-akan semua itu merupakan sesuatu kebutuhan yang harus digapai dan dipenuhi, sekalipun agama dan aqidahnya harus menjadi korban.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al-Baqarah: 8-10)

 

Pada waktu itu, orang-orang munafik bergaul dengan orang-orang mukmin, itu semua ditujukan agar mereka dapat mendengar rahasia umat islam dan membocorkannya pada pihak lawan. Dalam hati orang-orang munafik ada penyakit yang dengannya mereka membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berada dalam jalan kesesatan serta kebodohan. Orang-orang munafik mengira bahwa mereka dapat menipu Allah Subhanahu wa Ta’ala dan orang-orang yang beriman, padahal yang mereka tipu tidak lain dan tidak bukan adalah diri mereka sendiri.

 

Kemudian dalam surat An-Nisa ayat 142 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada umatnya bahwa suatu saat nanti akan ada perselisihan dan perseteruan pada umat islam yaitu menyebarnya sifat munafik dan penyebarannya yang sangat cepat dari umat islam sendiri.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan ada perselisihan dan perseteruan pada umatku, suatu kaum yang memperbagus ucapan dan memperjelek perbuatan (akhlak yang buruk) Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran “. (Sunan Abu Daud : 4765).

 

Orang-orang munafik mempunyai sedikitnya 3 sifat yang pasti ada dalam diri seorang munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar dan jika dipercaya ia berkhianat”. (HR. Bukhari).

 

Sifat yang pertama adalah jika berbicara ia berbohong atau berdusta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Amat besar pengkhianatanya manakala kamu berbicara kepada saudaramu dengan suatu pembicaraan di mana ia membenarkanmu namun kamu berdusta kepadanya.” (HR.Ahmad)

 

Sifat kedua ialah jika berjanji ia ingkar. Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bila seorang laki-laki berjanji dan berniat menepatinya namun tidak dapat menepatinya, maka tidak apa-apa baginya (ia tidak berdosa).” (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi).

 

Sifat ketiga yaitu jika dipercaya ia berkhianat. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita agar menepati janji seraya berfirman, “Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung-jawabannya.” (QS.al-Isra’:34)

 

Kemudian balasan yang akan diterima orang-orang munafik di hari kiamat kelak yaitu mereka akan ditempatkan di tingkatan yang paling bawah dari api neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS.An-Nisa: 145)

 

Subhanallah…betapa perihnya balasan yang akan diterima orang-orang munafik. Ditempatkan di tempat  yang paling buruk didalam neraka dengan azabnya yang paling dahsyat dan paling hebat, ibarat memasak beras maka tempat orang munafik itu adalah di bagian kerak periuk tempat menanak nasi tersebut. Tempat yang sedemikian itu diperuntukkan untuk mereka karena perbuatan mereka yang sangat tercela. Lebih tercela dari perbuatan orang-orang kafir. Hal itu karena disamping kekafiran yang mereka simpan didalam hati, mereka juga mengolok-olok agama islam hanya karena ingin mendapatkan kepentingan duniawi.

 

Kemudian dipenghujung ayat tersebut lebih ditegaskan lagi bahwa azab yang akan mereka terima nanti tidak akan dikurangkan walau sedikit. Mereka akan menanggung azab yang pedih untuk selama-lamanya. Perkataan “tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka” menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki peluang sedikitpun untuk mendapatkan azab yang lebih ringan karena tidak ada satu orang pun yang mampu menolong mereka.

 

Saudaraku…Suatu ketika Ali bin Abi Thalib mendengar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sungguh aku tidak mengkhawatirkan seorang mukmin ataupun seorang musyrik atas umatku. Seorang mukmin akan dipelihara Allah dengan imannya daripada perbuatan mengganggu mereka dan seorang musyrik akan Allah patahkan gangguannya dengan sebab kemusyrikannya dari mereka. Tapi, aku sangat mengkhawatirkan seorang munafik yang pandai bersilat lidah, mengucapkan apa-apa yang kamu ketahui dan mengerjakan apa yang kamu ingkari …” (Nahjul Balaghah: 114).

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis tersebut mengingatkan kepada kita tentang bahaya orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang ‘bermuka dua’, lahirnya kelihatan baik, tetapi hatinya ternyata jahat. Secara lahir mereka baik, seakan-akan mereka teman kita, padahal mereka musuh kita. Mereka juga pandai bersilat lidah, perkataannya sangat menakjubkan dan meyakinkan, tetapi perbuatannya bertentangan dengan ucapan mereka sendiri. Di depan kita mereka mengaku pembela kebenaran, penegak keadilan, penjaga kesatuan negara, pejuang hak asasi manusia, dan pendekar demokrasi. Tetapi, ternyata mereka adalah penghalang kebenaran, perusak keadilan, pemecah kesatuan negara, pelanggar hak asasi manusia, dan penghambat demokrasi.

 

Mereka juga mengaku pembela rakyat dan penolong kaum lemah, ternyata mereka adalah penipu (pengkhianat) rakyat dan zhalim terhadap kaum lemah. Bahkan, mereka dengan mudah berani bersumpah dengan nama Allah dan Al-Quran di atas kepalanya, tetapi tindakan mereka ternyata menipu Allah dan bertentangan dengan petunjuk-petunjuk Alquran.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ”Orang-orang munafik, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf (baik) dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah. Maka, Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (QS At-Taubah: 67).

 

Sebagai umat Islam, kita perlu selalu waspada terhadap tipu daya mereka. Jika tidak, tipu daya mereka dapat menghancurkan umat Islam itu sendiri. Khalifah Umar bin Khattab terbunuh karena ulah orang munafik. Demikian pula kerusuhan yang terjadi di masa Khalifah Usman bin Affan dan perang saudara yang terjadi di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib.

 

Maka, tidak menutup kemungkinan kerusuhan, kekacauan, dan perseteruan yang terjadi selama ini juga karena ulah orang-orang munafik. Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang mereka diangkat menjadi teman kita atau pemimpin dan pembantu-pembantu kita, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu).” karena mereka hanya akan merugikan kita. Dengan jalan inilah insya Allah kita tidak akan salah memilih pemimpin-pemimpin atau pembantu-pembantu munafik yang hanya akan merugikan kita.

By PA

Related Post